with ur destiny
Friday, July 10, 2009
telah usai masaku.....telah tiba waktuku tuk kembali....maafku buat semua...maafku buat semua.........doakan aku dan maafkan aku.......
Wednesday, June 06, 2007
Dia akan mendengar suara kalbuku yang terucap dari mulutmu, merasakan jiwa dan ruhku dari tubuhmu. Meminum perasaan sukmaku dari gelasmu, menyanyikan irama laguku, tetapi dari kenyaringan suaramu. ”
confused...u or i ?
asdlfhsd;jf;fowe;fjkdl;safjo';jfiewopa'jfld'jklsa'fjopweofj'a'efjaw'afjp
ps:happy b'day to my self............
Sunday, June 03, 2007
"Speechless"
Your love is magical, that's how I feel
But I have not the words here to explain
Gone is the grace for expressions of passion
But there are worlds and worlds of ways
to explain
To tell you how I feel
But I am speechless, speechless
That's how you make me feel
Though I'm with you I am far away and
nothing is for real
When I'm with you I am lost for words, I
don't know what to say
My head's spinning like a carousel, so
silently I pray
Helpless and hopeless, that's how I feel
inside
Nothing's real, but all is possible if
God is on my side
When I'm with you I am in the light
where I cannot be found
It's as though I am standing in the
place called Hallowed Ground
Speechless, speechless, that's how you
make me feel
Though I'm with you I am far away and
nothing is for real
I'll go anywhere and do anything just to
touch your face
There's no mountain high I cannot climb
I'm humbled in your grace
Speechless, speechless, that's how you
make me feel
Though I'm with you I am lost for words
and nothing is for real
Speechless, speechless, that's how you
make me feel
Though I'm with you I am far away, and
nothing is for real
Speechless, speechless, that's how you
make me feel
Though I'm with you I am lost for words
and nothing is for real
SpeechlessYour love is magical, that's
how I feel
But in your presence I am lost for words
Words like, "I love you."
Tuesday, May 01, 2007
rintih
kemana jiwa melayang
jika angan tak lagi terkekang
asa tak lagi terkikis...tapi
terbelenggu dan terpuruk
tertindas oleh budak nafsu
hingga mati dalam kenistaan.
dedicated: to all.....,save the mother of nature
Tuesday, April 03, 2007
terpuruk
dalam sakitku kumasih bisa berteriak
dalam pedihku kumasih tersadar
dalam inginku ku masih bisa terdiam...
Wednesday, November 15, 2006
sorry
Andai dapat merubah ruang dan waktu,
andai dapat menghentikan sejenak perputaran matahari dan me rewind dan memperbaiki segala kesalahan, penyesalan, kekeliruan, dan pembenaran. maka semuanya takkan seperti ini.
letih,
Saturday, November 11, 2006
Distro...
Dari Bandung hingga
Mereka menyewa sebidang lantai cukup luas di bekas gudang tentara itu. Tapi jantung Distro 347 berdebar di satu ruangan 35 meter persegi berdinding putih. Isinya, tiga desainer, satu laptop, satu set drum musik merah menyala—biasa digebuk di sela-sela kebosanan. Satu dispenser. Tiga meja, tiga kursi. Itu saja. Ah, ada beberapa majalah grafis. ”Ini tempat main gue, tempat otak terus bernyala,” ujar Dendy Darman, 33 tahun, pendiri Distro 347. Di dekatnya, duduk Yuriza Kenobi. Anli Rizandi ada di ruangan lain, sedang memencet-mencet telepon.
Dari ruangan itu, dari gudang itu, mereka bertamasya visual mengendus tren-tren di
Kini berumur 10 tahun, omzet 347 menurut Dendy sekitar Rp 700 juta-Rp 1 miliar per bulan. Bercanda? Serius! Mereka mempekerjakan sekitar 50 karyawan. Ruang pamer sekaligus tokonya ada di Jalan Trunojoyo dan Jalan Citarum,
Pelakunya rata-rata belia atau mengawalinya dari usia muda. Ada Chepoy, Andi Bogel, 24 tahun. Jelita, 19 tahun, Olip Reynaldis, 23 tahun. Memilih jalan indie, independen, mereka emoh didikte arus utama industri pasar dalam urusan produk dan kreativitas. Ekspresif, berani tampil beda, percaya seisi dunia bisa dirangkul, adalah beberapa cirinya. Mereka mewakili fenomena anak muda paling asyik saat ini: hobinomik. Dari hobi, duit dipanen. Dari hobi, rezeki dipanggil.
Hobinomik bukan istilah kosong.
Hasil penelitian terbaru ”Youthology”, yang digelar Ogilvy Public Relations di Jakarta, 2006, merekam denyut kehidupan anak muda kita. Selama ini boleh dikata belum ada riset komprehensif untuk menggambarkan ”anatomi” anak muda
Riset digelar di
Hasilnya? Sebagian besar responden, 61 persen, menjalani hidup dengan
Dan, hobinomik adalah muaranya.
Mayoritas responden, 92 persen, menjadi pelaku atau mengenal kawan kerabat yang memetik rupiah lewat hobi.
Penelusuran Tempo di lapangan mengukuhkan hasil riset Ogilvy. Hobinomik kencang bergerak, terutama pada komunitas bawah tanah (underground). Distro, yang menjamur beberapa tahun belakangan, salah satu patokannya. Toko khas anak muda ini tersebar sampai ke gang sempit, unjuk gigi di latar-latar urban.
Perkenalkan, Jelita Dian Andini dari
Dia juga bisa memaksa orang merogoh dompet lebih dalam. Baju-baju rancangannya dilepas di atas setengah juta rupiah per potong. Tahun lalu, ”Saya meluncurkan busana dengan label Nii Production,” kata si nona dengan bangga.
Dia dan ribuan anak muda lain yang mencemplungkan diri ke wilayah hobinomik menunjukkan satu hal: hukum besi ekonomi berlaku pada segala zaman. Pasar hobinomik terbuka luas karena ada permintaan. Satu hal, mereka tidak sudi didikte. Andy Bogel, 24 tahun, pemilik Distro Insomnia di Kemang, Jakarta Selatan, bilang: ”Setiap desain kaus atau baju maksimal kami buat dua lusin. Laku nggak laku, pokoknya segitu,” ujarnya kepada Tempo.
Filosofi do it yourself membuat anak-anak muda itu tak mudah terpikat oleh merek. ”Yang penting bukan merek, tapi
Hobinomik pun mendapat tempat.
Ideologi gue banget juga membuat
Sayonara buat
Di dunia indie, mereka merayakan keragaman.
Gustaff Iskandar, pengelola
Alhasil, karya mereka tersedia bagi siapa saja. Yang gendut, buntet, langsing, hitam, kuning langsat, semua diberi tempat. Semacam ”antitesis” bagi industri fashion konvensional yang mengutamakan model ”kutilang darat”: kurus, tinggi, langsing, berdada rata.
Gustaff juga memandang anak muda sekarang punya ruang lebih untuk multi-identitas. Pagi jadi anak kuliahan, siang main di klub basket, malam ikut pengajian di musala. ’Dugem’ di klub malam pun bukan soal tabu. Kotak-kotak identitas menjadi lentur. ”Setiap orang menjadi individu yang unik dan berwarna,” Gustaff menambahkan.
Pada galibnya, mereka juga motor perubahan. Danny Satrio, redaktur majalah Hai, membenarkan bahwa anak muda abad ke-21 jauh lebih ekspresif dan percaya diri. ”Mereka nggak malu tampil, biarpun keahlian masih cethek,” kata Danny.
Aspek demografi dan budaya pop bisa digunakan untuk memotret perubahan karakter anak muda seperti yang dicontohkan Darmanto di atas. Diennaryati Tjokrosuprihartono, psikolog khusus remaja, di Jakarta, juga meyakini bahwa kepercayaan masyarakat membuat anak muda sekarang lebih kaya inisiatif dan percaya diri.
Diennar juga setuju bahwa anak muda era milenium lebih dinamis dan punya banyak pilihan menjalani hidup. Tapi, ”Tidak sedikit remaja yang terjerat narkoba, tawuran, seks bebas, dan bunuh diri,” katanya. Pendulum perubahan tidak melulu mengarah pada sisi cerah.
Remy Silado, pengelola Aktuil, majalah yang amat populer pada tahun 70-an, adalah salah satu saksi perubahan anak muda. Menurut Remy, sebelum tahun 60-an anak muda cenderung membebek tren luar negeri. Kiblat Amerika begitu kental hingga di zaman itu ada Gang Tangkiwood—meniru-niru
Soal fashion juga tiru-tiru. Model baju diambil dari majalah yang dibeli kawan yang baru pulang dari luar negeri. Pernah pamor bintang film James Dean meroket dengan celana jins macho. Apa daya, di Bandung-Jakarta model begini belum beredar. Apa akal? ”Kami datang ke penjahit khusus, cari kain paling mirip, bikin celana jins,” kata Remy. Penyair Sutardji Chalzoum Bachri, kata Remy mengenang, waktu itu bangga sekali memakai jins van
Lalu datang era 70-an dan 80-an. Iklim antikemapanan ala punk kencang bertiup. Grup band yang menomorsatukan disharmoni, seperti Velvet Underground dan The Sex Pistols, menjadi idola. Anak-anak muda mulai bergaya ngepunk dengan rambut jabrik—semangat yang masih terasa sampai kini. Beberapa pekan lalu sekelompok anak muda bergaya punk ditangkap polisi di Denpasar: mereka menyanyikan syair lagu yang menghina korps polisi.
Iklim tiru-meniru masih kental hingga dekade 1990 sampai sekarang. Tapi, hei, apa sih di dunia ini yang seratus persen orisinal? Menurut Dendy Darman, tren desain grafis terkini malah cut and paste. Ambil sedikit dari sini, gabungkan dengan itu. Beri bumbu kreativitas. Jebret…, jadilah
Kiblat anak muda 90-an juga lebih luas. Grup F-4 dari Taiwan, manga (komik) Jepang, gaya hip-hop New York, band indie di London, kelompok punk di Jerman. Juga Yamasaki—klub olahraga ekstrem di kawasan urban Prancis. ”Maka, terjadilah demokratisasi
Teknologi penyiaran. Perangkat digital. Komputer dan Internet.
Bermodal beberapa puluh ribu perak, film pendek bisa dibikin—tentu dengan kamera pinjaman. Ini berbeda dengan tahun 70-an, kata Remy Silado, ketika anak muda bermimpi menjadi bintang film.
Pada 1995, stasiun televisi musik, MTV, melanda
Dan… mampu membikin anak muda tergila-gila. Sheila on 7, Slank, Endank Sukamti, Superman Is Dead, semuanya sukses di panggung indie. ”Mereka menjadi ilham bagi anak-anak muda,” kata Danny Satrio.
Harus diakui, tidak gampang bersetia pada jalur indie. Ketika bendera sudah berkibar, orang mudah tergoda bergabung dengan selera pasar. Band indie berganti panggung mainstream, distro beralih ke factory outlet. Kekuatan pasar yang melibas komunitas indie bukan ceritera baru di jalur industri modern. Walau ada saja, seperti beberapa anak muda di gudang tentara itu, yang mencoba bertahan sedapat-dapatnya. Ini sepotong obrolan Tempo dengan Dendy di ruang pamernya di Jalan Citarum, dua pekan lalu:
+ Pernah mempertimbangkan alternatif produk massal untuk item-item baju terlaris?
- Tidak. Maksimal per desain 60 potong. Saya
+ Attitude siga kumaha, Kang. Yang bagaimana?
- Jadi diri sendiri! Nggak asyik kalau cuma membebek.
bersulang ahhh
![]()
http://www.tempointeraktif.com and cannizaro.
