Monday, June 07, 2010

Tidak seindah yang kamu lihat atau dengar bahwa kebahagiaan ada dalam perkawinan, banyak sekali lika-liku di dalamnya, kalaupun begitu indahnya kenapa Ariel, pasha,Whitney Houston, Rossa, Inggrid kansil, adji-reza, etc

Tanya mereka kenapa bisa terjadi?
Sebagai seleb toh harta tak jadi masalah.., apapun bisa dibeli? tapi apa yang tidak bisa mereka beli adalah kebahagiaan..ya! kebahagiaan yang tak dapat dibeli dengan uang berapapun nominalnya.

Belum tentu kebahagiaan ada dikalangan kaum berada, kaum berduit, atau kaum berpangkat. Karena dengan harta dan semuanya itulah cobaan terberat bagi manusia, saat mereka bisa beli semuanya maka cobaan akan menerpa dengan kerasnya.

[aku bercerita...]

Kebahagiaan ada di sebuah rumah bambu mungil reyot dan hampir tak ada barang mahal didalamnya kecuali sebuah pacul yang teronggok di dapur belakang.

Di gubuk itu ada seorang tua dengan 2 orang anak laki-lakinya yang sehari-hari memeras keringat hanya untuk menyambung hidup esok hari.

Dulu orang tua itu adalah saudagar kaya raya, kekayaannya telah membutakan matanya.

Dia jauh dari agama, dia mengindahkan keluarganya, dan dia mengganggap keluarganya adalah kekuasaan, dan kekayaannya, Sungguh ia terperdaya olehnya.

Dia mempunyai 2 orang istri yang cantik dan masing-masing memberikan si orang tua itu seorang anak laki-laki.

Setahun, dua tahun, lima tahun telah berlalu sudah, pada tahun ke enam usaha perniagaannya gulung tikar. Rumah,villa,apartement,deposito, dan semua hartanya ludes untuk menutupi segala hutang piutangnya. Yang tersisa hanya pakaian yang dia kenakan saja serta secuil harga diri yang masih tersisa.

Kedua istrinya meninggalkannya, lengkap sudah penderitaan si orang tua itu.

Pagi itu, digubuknya yang reyot dia memohon kepada Tuhan karena kemiskinannya yang membelenggu dirinya kurang lebih 6 tahun lamanya...

Dia tidak memohon kekayaan lagi, tapi dia memohon kelak jika dia telah tiada, semoga kedua anaknya diberikan kekuatan dan bisa mengarungi hidup yang keras ini.

Kedua anaknya yang masih kecil-kecil, yang mungkin kecil untuk ukuran badan tapi besar untuk ukuran pikiran dan kemandirian. ya.., sejak umur tiga tahun si bungsu di oleh si  sulung untuk mengamen di jalanan, serta menyemir sepatu hanya untuk membantu bapaknya yang renta.

Kehidupan anak-anaknya terenggut dan terganti dengan kehidupan yang setiap harinya harus membanting tulang demi bapak dan adheknya, umur delapan tahun sudah harus hidup dijalanan Ibukota. Mengais rejeki di jalanan dan mengharapkan iba yang lebih.

Tapi kebahagiaan terselip di raut mukanya yang lelah seharian mengamen, dia bahagia hidup dengan bapaknya yang dengan gigihnya berusaha menghidupi dia dan adheknya.

" Aku akan membelikan sabit ini untuk Bapak. " ucapnya dalam benak.

[to be continued...]

0 comments: